Postingan

Tujuh: Menyapa

Gambar
2022'  Jika aku awali dengan permisi, apakah ada seseorang yang sedang membaca ini? Sambil mendengar album lagu NIKI? Tiba-tiba aku ingin kembali menulis di laman yang sudah terasa hampa ini. Tentu bukan tanpa alasan. Aku datang untuk sedikit menyapa perasaan rindu yang terkadang hadir tanpa diundang.  Apakah tulisanku mengganggu? Apakah seseorang akan membacanya dengan sukarela? Apakah akan ada orang yang menghubungi hanya untuk menyapaku sebentar saja? Untuk menanyakan keadaanku sekarang? Sudah lebih dua tahun laman ini tertahan. Entah mimpi apa yang sering muncul di setiap malamku hingga membuatku bimbang tak karuan. Buram, tak terlihat. Seperti hanya aku yang bermain peran di sana. Seringkali kudengar bahwa sebaiknya kita tidak bertindak dan mengambil keputusan saat marah. Sayangnya, aku sedang tidak marah. Jadi kuputuskan untuk menulis. Andai secarik surat masih menjadi alternatif penyampai rasa, mungkin sudah beribu surat menumpuk di bawah tumpukan bajuku yang tak sempat...

Enam: Rekaman Piringan Hitam

 Salah, aku meralatnya. Pada bagian tiga, aku bilang bahwa aku benci semesta yang isinya ada kamu. Bukan maksudku seperti itu. Aku benci semesta yang isinya ada kamu ketika waktu, jarak, suasana, dan rasa yang tak mendukung dan bertabrakan.  Selainnya, aku suka. Kamu pernah bertanya, apakah aku menyukaimu? Aku tak mengelak. Kukatakan dengan jelas bahwa aku menyukaimu dengan banyak. Apakah kamu tersenyum? Aku tidak pernah tahu dengan jelas bagaimana reaksi aslimu saat membaca itu. Berhari-hari lalu, hujan nampak sedang gemar sekali turun ke bumi. Menyapa setiap sore. Membasuh setiap insan. Memberi jeda waktu. Ya, sampai saat ini pun hujan terus berkunjung. Lalu, kamu kapan? Ingatan-ingatan yang terus melekat terkadang membawaku pada rekaman peristiwa yang beragam maknanya. Aku melihat kamu, melihat senang, melihat tawa, melihat tangis, melihat lucu, melihat sedih, melihat marah dan kesal, melihat cemas dan takut, melihat rumit dan lelah, melihat bodoh, juga melihat harap. Peras...

Lima: Bukan Hitam, Apalagi Putih

 Perihal kasih dan sayang rasanya memang tidak akan pernah hilang walau sudah tak nampak raga dihadapan. Ada banyak hal indah sebelum hari itu. Sebelum akhirnya hari yang membuat duniaku merasa luluh lantah dan hilang rasanya. Aku yang merasa sebagai seseorang yang kehilangan arah jalan pulang, kehilangan erat dalam genggaman, kehilangan harap yang dirancang. Rasanya saat itu duniaku yang penuh warna indah dan perasaan senang, menghilang terbang ikut dengan seseorang yang kusayangi dengan dalam. Tak cukup hitungan hari bagiku untuk sembuh, sampai detik ini pun aku tak mengenal apa itu sembuh? Bagaimana bentuk sembuh? Kapan aku menemuinya? Bagai berjalan di atas kerikil tajam tanpa alas kaki. Bagai mengayuh di bawah terik tanpa teduh. Aku kehilangan erat dalam genggaman, tak lagi kurasakan penuntun lembut itu. Tatkala aku menangisi diriku sendiri, tanpa mencari pun ruang waktu ternyata menemukanku denganmu. Secepat perekat pada kertas putih bersih, kita beriringan. Sebentar, tak seh...

Empat: Yang Lalu Sudah

Sudah kubilang sebelumnya, bahwa tidak akan ada sampai lima ceritaku sudah usai di sepertiga. Aku hanya ingin menuliskannya saja di sini agar tidak menetap pada pikiranku yang lumpuh akan sebuah perasaan hampa dan tak bermakna itu.  Dulu, beribu kalimat rasanya selalu tak cukup kutulis tentang perasaan-perasaan yang kini kunilai labil tak karuan. Tulisan-tulisan yang lalu itu, kamu ingat? Yang masih sempat kukirimkan dan mungkin kaubaca walau tak sampai titik terakhir dari kalimat terakhir di paragraf terakhir. Kautahu? Aku menuliskannya tengah malam, ya karena tidak akan ada orang yang menggangguku saat itu. Kalimat-kalimat yang mungkin biasa saja, sama hal nya seperti tulisanku yang ini. Isinya ya tentang semua hal yang kupikirkan saja. Jika kamu ada, itu artinya kamu masih ada dipikiranku. Beruntungnya aku menulis di sini karena aku yakin kamu tidak akan pernah singgah. Bagaimana bisa singgah jika mampir saja enggan. Betul kan? Yang lalu sudah. Aku bukan sedang marah, tidak mena...

Tiga: Peri Jahat

Hari itu, awan kelabu nampak murung sekali. Tidak menyampaikan senang seri seperti biasanya. Sama seperti suasana banyak hati yang patah. Dengar? Tawa-tawa riang keras orang-orang disampingmu? Mereka seperti pemain peran handal yang tak terlihat pura-puranya. Mereka sembunyikan luka dibalik tawa yang hanya penenang sementara. Sebentar, sejenak, berulang kali seperti itu.  Selepas hari-hari yang selalu kubayangkan akan indah layaknya cengkrama burung merpati, aku mendapatimu lepas kendali. Kita tak lagi berjalan beriringan. Aku kehilangan bayanganmu. Kukira akan sampai pada bagian lima tulisanku berada, tetapi ternyata jauh lebih cepat aku harus menuliskannya. Iya, ini hanya tulisan membosankan yang isinya hanya celotehan tak bermakna. Peri-peri jahat berhasil menjauhkanmu dariku. Tak perlu khawatir, kita memang tidak pernah saling memiliki bukan? Jika ini disebut selesai pun itu seperti lelucon, karena memulai pun tak pernah. Iya, betul katamu. Seharusnya sejak awal sudah kulepaska...

Dua: Es Krim Stroberi

Jika bumi menyapa senja, harum manis bunga-bunga di depan halaman rumahku itu tercium nyata. Masuk rongga hidungku yang menarik napas dengan sendu perlahan. Jika bumi menyapa senja yang diiringi hujan rintik-rintik, sangat indah menikmatinya sambil mendengarkan alunan lagu tenang. Jika bumi menyapa senja di jalanan, sorot cahaya mentari hangat membuat mereka yang berlalu lalang kegirangan. Cantik nampaknya. Suasana-suasana yang ramah itu dapat dibayangkan sambil menikmati es krim stroberi bersama dan duduk di bangku panjang putih pinggir danau. Terlalu manis, katamu. Tapi aku suka. Aku terus berbicara tanpa henti, bercerita semua hal yang ada dipikiranku. Topiknya beragam, kalau dipikir kembali itu sangat membuang-buang waktu haha. Kucing yang kutemukan kemarin, anak-anak kecil dengan dialog-dialog unik mereka, tim bola kesukaanku, drama yang sedang aku tonton, jalanan yang kulewati setiap hari, manusia-manusia yang kutemui setiap hari, lagu yang sedang aku dengarkan akhir-akhir ini, b...

Satu: Dunia Sebelah

Saat itu, temanku bilang bahwa di belahan dunia sana ada kamu. Kamu yang aku tidak pernah tahu sosoknya, kamu yang tidak aku tahu tuturnya, kamu yang tidak pernah tahu bahwa aku hidup. Hidup. Ayah bilang bahwa kehidupan memang banyak rahasia dan kejutannya. Benar, setelah lebih dari lima belas tahun aku hidup di dunia ini, aku menemukan banyak jawaban rahasia dan kejutannya. Lalu seiring berjalannya waktu, langkahku yang kecil dan pelan ini ternyata dapat melihat satu manusia bermata indah. Senyum matanya yang melekat diingatanku menularkan senyum yang hangat di sini. Mungkin beberapa orang tidak menyadarinya, titik hitam kecil yang ada di pipinya seperti hiasan bintang gemerlap di langit. Aku menemukanmu. Ini bukan cerita khayalan. Aku hanya mengubahnya agar terlihat lebih manis alurnya. Hal-hal yang ada pada dirinya memang menakjubkan. Aku tidak pernah menemukannya pada sosok manusia lain. Kau tahu? Menemukanmu seperti menemukan pintu ajaib Doraemon. Langka, tak mungkin, bahkan musta...