Empat: Yang Lalu Sudah
Sudah kubilang sebelumnya, bahwa tidak akan ada sampai lima ceritaku sudah usai di sepertiga. Aku hanya ingin menuliskannya saja di sini agar tidak menetap pada pikiranku yang lumpuh akan sebuah perasaan hampa dan tak bermakna itu.
Dulu, beribu kalimat rasanya selalu tak cukup kutulis tentang perasaan-perasaan yang kini kunilai labil tak karuan. Tulisan-tulisan yang lalu itu, kamu ingat? Yang masih sempat kukirimkan dan mungkin kaubaca walau tak sampai titik terakhir dari kalimat terakhir di paragraf terakhir. Kautahu? Aku menuliskannya tengah malam, ya karena tidak akan ada orang yang menggangguku saat itu.
Kalimat-kalimat yang mungkin biasa saja, sama hal nya seperti tulisanku yang ini. Isinya ya tentang semua hal yang kupikirkan saja. Jika kamu ada, itu artinya kamu masih ada dipikiranku. Beruntungnya aku menulis di sini karena aku yakin kamu tidak akan pernah singgah. Bagaimana bisa singgah jika mampir saja enggan. Betul kan?
Yang lalu sudah. Aku bukan sedang marah, tidak menangis juga, tidak overthinking juga. Aku hanya ingin menulis, itu saja. Tak bisa kuceritakan banyak hal kini. Aku menganggapnya hilang dan lenyap. Tidak ada apa-apa. Tenang, aku tidak menyalahkanmu sama sekali. Ini hanya tulisan, kenapa kamu membacanya seserius itu? Biasa saja, atur napasmu itu.
Lagipula aku sudah baik-baik saja sekarang. Mungkin kamu berpikir, lalu kenapa aku menuangkan ini pada tulisan? Ya itu karena aku sudah biasa-biasa saja bahkan merasa jauh lebih baik karena pikiranku sudah mulai mencari celah terang yang tak terhalangi bayanganmu sehingga aku dapat menulis celotehan sampah ini.
Sekali lagi, aku tidak menyalahkanmu. Selamat dan berbahagialah.
Komentar
Posting Komentar