Tiga: Peri Jahat
Hari itu, awan kelabu nampak murung sekali. Tidak menyampaikan senang seri seperti biasanya. Sama seperti suasana banyak hati yang patah. Dengar? Tawa-tawa riang keras orang-orang disampingmu? Mereka seperti pemain peran handal yang tak terlihat pura-puranya. Mereka sembunyikan luka dibalik tawa yang hanya penenang sementara. Sebentar, sejenak, berulang kali seperti itu. Selepas hari-hari yang selalu kubayangkan akan indah layaknya cengkrama burung merpati, aku mendapatimu lepas kendali. Kita tak lagi berjalan beriringan. Aku kehilangan bayanganmu. Kukira akan sampai pada bagian lima tulisanku berada, tetapi ternyata jauh lebih cepat aku harus menuliskannya. Iya, ini hanya tulisan membosankan yang isinya hanya celotehan tak bermakna. Peri-peri jahat berhasil menjauhkanmu dariku. Tak perlu khawatir, kita memang tidak pernah saling memiliki bukan? Jika ini disebut selesai pun itu seperti lelucon, karena memulai pun tak pernah. Iya, betul katamu. Seharusnya sejak awal sudah kulepaska...