Tiga: Peri Jahat
Hari itu, awan kelabu nampak murung sekali. Tidak menyampaikan senang seri seperti biasanya. Sama seperti suasana banyak hati yang patah. Dengar? Tawa-tawa riang keras orang-orang disampingmu? Mereka seperti pemain peran handal yang tak terlihat pura-puranya. Mereka sembunyikan luka dibalik tawa yang hanya penenang sementara. Sebentar, sejenak, berulang kali seperti itu.
Selepas hari-hari yang selalu kubayangkan akan indah layaknya cengkrama burung merpati, aku mendapatimu lepas kendali. Kita tak lagi berjalan beriringan. Aku kehilangan bayanganmu. Kukira akan sampai pada bagian lima tulisanku berada, tetapi ternyata jauh lebih cepat aku harus menuliskannya. Iya, ini hanya tulisan membosankan yang isinya hanya celotehan tak bermakna.
Peri-peri jahat berhasil menjauhkanmu dariku. Tak perlu khawatir, kita memang tidak pernah saling memiliki bukan? Jika ini disebut selesai pun itu seperti lelucon, karena memulai pun tak pernah. Iya, betul katamu. Seharusnya sejak awal sudah kulepaskan saja dirimu. Seharusnya sejak awal aku tak perlu menunggu. Seharusnya sejak awal aku memahami apa maksud dari semua ucapanmu itu. Mungkin aku tidak akan lelah mengurusi diriku sendiri, mengobati diriku sendiri, aku tidak perlu repot-repot menghilangkan kamu dari pikiranku. Mungkin hari-hariku akan jauh lebih baik dan lebih indah jika aku tidak mengurusi itu.
Aku marah, aku sedih, menangis bermenit-menit, membuang waktuku hanya untuk mempedulikan apa yang telah tertanam dalam perasaanku. Kamu tidak pernah tahu sesulit apa upayaku untuk terlihat biasa-biasa saja dihadapan semua orang. Aku kesulitan, aku kewalahan, aku butuh bantuan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dalam diriku saat ini. Buntu, aku tidak tahu harus lari kemana, aku tidak tahu kapan hal yang membebaniku, hal yang menyebalkan ini akan terus berada di sini aku tidak tahu.
Betapa menjijikannya diriku terlihat oleh semesta ketika mereka tahu bahwa aku benar-benar menyayangi sosok yang tak pernah mengharapkanku kembali. Jahat, semesta sama sekali tak pernah berpihak padaku. Aku benci. Sangat benci.
Dan aku berharap dengan menuliskannya, aku dapat selalu ingat bahwa aku membenci semesta yang isinya ada kamu.
Komentar
Posting Komentar