Enam: Rekaman Piringan Hitam

 Salah, aku meralatnya. Pada bagian tiga, aku bilang bahwa aku benci semesta yang isinya ada kamu. Bukan maksudku seperti itu. Aku benci semesta yang isinya ada kamu ketika waktu, jarak, suasana, dan rasa yang tak mendukung dan bertabrakan. 

Selainnya, aku suka.

Kamu pernah bertanya, apakah aku menyukaimu? Aku tak mengelak. Kukatakan dengan jelas bahwa aku menyukaimu dengan banyak. Apakah kamu tersenyum? Aku tidak pernah tahu dengan jelas bagaimana reaksi aslimu saat membaca itu.

Berhari-hari lalu, hujan nampak sedang gemar sekali turun ke bumi. Menyapa setiap sore. Membasuh setiap insan. Memberi jeda waktu. Ya, sampai saat ini pun hujan terus berkunjung. Lalu, kamu kapan?

Ingatan-ingatan yang terus melekat terkadang membawaku pada rekaman peristiwa yang beragam maknanya. Aku melihat kamu, melihat senang, melihat tawa, melihat tangis, melihat lucu, melihat sedih, melihat marah dan kesal, melihat cemas dan takut, melihat rumit dan lelah, melihat bodoh, juga melihat harap.

Perasaan-perasaan yang muncul tiap kali memori ingatanku memutar kembali piringan hitam yang lekat tentangmu, memberi jawab dengan semu padaku bahwa ternyata aku selalu merindukan hal itu. Hal tentang aku dan kamu.

Kemudian beberapa kali, waktu sempat menjadi teman yang tidak ramah bagiku. Sesekali ramah kembali, menyebalkan tapi tak apa. Setiap detik arah jarum jam tangan yang kulirik berulang-ulang, selalu menemukanku pada temu denganmu walau tak sungguh terbilang seperti itu. Mungkin hanya sebagai waktu jeda yang sama dan beriringan tetapi tak berdekatan. Sama hal nya seperti jeda di lampu merah, yang menemukan banyak tuan dan nona tetapi berbeda tujuan dan arah pulang.

Piringan hitam dalam memoriku akan terus memutar musik dan alunan nada yang sama karena isinya masih tentang kamu. Persis seperti buku yang kubaca berkali-kali karena aku menyukai salah satu halamannya. Juga seperti melodrama yang kutonton berkali pun tak akan bosan aku menyaksikannya. 

Karena rekamannya tak akan hilang, memorinya tak akan rusak, melodinya tak akan sumbang, jika itu masih tentang kamu.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima: Bukan Hitam, Apalagi Putih

Tujuh: Menyapa