Enam: Rekaman Piringan Hitam
Salah, aku meralatnya. Pada bagian tiga, aku bilang bahwa aku benci semesta yang isinya ada kamu. Bukan maksudku seperti itu. Aku benci semesta yang isinya ada kamu ketika waktu, jarak, suasana, dan rasa yang tak mendukung dan bertabrakan. Selainnya, aku suka. Kamu pernah bertanya, apakah aku menyukaimu? Aku tak mengelak. Kukatakan dengan jelas bahwa aku menyukaimu dengan banyak. Apakah kamu tersenyum? Aku tidak pernah tahu dengan jelas bagaimana reaksi aslimu saat membaca itu. Berhari-hari lalu, hujan nampak sedang gemar sekali turun ke bumi. Menyapa setiap sore. Membasuh setiap insan. Memberi jeda waktu. Ya, sampai saat ini pun hujan terus berkunjung. Lalu, kamu kapan? Ingatan-ingatan yang terus melekat terkadang membawaku pada rekaman peristiwa yang beragam maknanya. Aku melihat kamu, melihat senang, melihat tawa, melihat tangis, melihat lucu, melihat sedih, melihat marah dan kesal, melihat cemas dan takut, melihat rumit dan lelah, melihat bodoh, juga melihat harap. Peras...