Lima: Bukan Hitam, Apalagi Putih

 Perihal kasih dan sayang rasanya memang tidak akan pernah hilang walau sudah tak nampak raga dihadapan. Ada banyak hal indah sebelum hari itu. Sebelum akhirnya hari yang membuat duniaku merasa luluh lantah dan hilang rasanya. Aku yang merasa sebagai seseorang yang kehilangan arah jalan pulang, kehilangan erat dalam genggaman, kehilangan harap yang dirancang. Rasanya saat itu duniaku yang penuh warna indah dan perasaan senang, menghilang terbang ikut dengan seseorang yang kusayangi dengan dalam.

Tak cukup hitungan hari bagiku untuk sembuh, sampai detik ini pun aku tak mengenal apa itu sembuh? Bagaimana bentuk sembuh? Kapan aku menemuinya? Bagai berjalan di atas kerikil tajam tanpa alas kaki. Bagai mengayuh di bawah terik tanpa teduh. Aku kehilangan erat dalam genggaman, tak lagi kurasakan penuntun lembut itu.

Tatkala aku menangisi diriku sendiri, tanpa mencari pun ruang waktu ternyata menemukanku denganmu. Secepat perekat pada kertas putih bersih, kita beriringan. Sebentar, tak seharusnya kusebut kita kali ini. Maaf.

Ya, selayaknya kertas biasa yang kian hari kian timbul bercak kuning dan noda. Kukira banyak warna akan membuatnya nampak cantik, tapi ternyata jika salah dan tak beraturan itu membuatnya terlihat sangat buruk. Iya, banyak warna tapi terlihat sangat buruk. Lantas setelahnya? Aku buang saja.

Aku kehilangan erat dalam genggaman, lagi.

Hancur kembali duniaku. Mungkin kalimatnya terlalu berlebihan bagimu, tapi lantas kusebut bagaimana pada perasaan yang juga berlebihan ini? Tak bisa kusebut biasa karena di dalamnya ada makna walau seluruhnya tertuang fana.

Ada malu setiap kupinta pada Tuhan. Manusia macam apa aku yang tiap kali memohon, ucapanku isinya hanya kamu. Manusia macam apa aku yang tiap kali memohon tapi tetap saja bodoh pada hal yang tak kokoh. Penatku menjadikannya hitam yang masih samar jika kaulihat dari dekat, tapi juga tak begitu terang jika kaulihat dari jauh pandang.

Bukan tak berwarna. Bukan hitam, apalagi putih. Seperti itulah aku kini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam: Rekaman Piringan Hitam

Tujuh: Menyapa