Satu: Dunia Sebelah

Saat itu, temanku bilang bahwa di belahan dunia sana ada kamu. Kamu yang aku tidak pernah tahu sosoknya, kamu yang tidak aku tahu tuturnya, kamu yang tidak pernah tahu bahwa aku hidup.

Hidup. Ayah bilang bahwa kehidupan memang banyak rahasia dan kejutannya. Benar, setelah lebih dari lima belas tahun aku hidup di dunia ini, aku menemukan banyak jawaban rahasia dan kejutannya.

Lalu seiring berjalannya waktu, langkahku yang kecil dan pelan ini ternyata dapat melihat satu manusia bermata indah. Senyum matanya yang melekat diingatanku menularkan senyum yang hangat di sini.

Mungkin beberapa orang tidak menyadarinya, titik hitam kecil yang ada di pipinya seperti hiasan bintang gemerlap di langit. Aku menemukanmu.

Ini bukan cerita khayalan. Aku hanya mengubahnya agar terlihat lebih manis alurnya. Hal-hal yang ada pada dirinya memang menakjubkan. Aku tidak pernah menemukannya pada sosok manusia lain.

Kau tahu? Menemukanmu seperti menemukan pintu ajaib Doraemon. Langka, tak mungkin, bahkan mustahil. Tapi kau tahu? Tuhan menjawab kemustahilan itu dengan temu.

Lorong waktu yang indah bagai berada di dunia animasi favoritku. Penuh bintang jatuh nan cantik, bunga-bunga dengan harum wangi semerbaknya, air terjun dengan pelangi, nada-nada tarian dansa yang hangat, peri-peri terbang, alunan biola dan piano, ketukan pelan suara sepatu putri dan pangeran, hembusan angin menyejukkan. Iya, seperti dalam cerita dongeng. Indah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enam: Rekaman Piringan Hitam

Lima: Bukan Hitam, Apalagi Putih

Tujuh: Menyapa